Batuk produktif (Berdahak)

Disebut batuk produktif bila saat batuk juga disertai dengan keluarnya dahak. Dahak yang keluar bisa berasal dari hidung dan sinus bisa juga dari kerongkongan dan paru paru. Batuk berdahak tidak boleh ditekan karena fungsi sebenarnya adalah untuk membersihkan saluran nafas dari dahak.  Berikut beberapa kondisi yang dapat menyebabkan batuk berdahak :
  • Infeksi virus. Adalah normal jika anda batuk berdahak saat menderita common cold. Batuk biasanya dicetuskan oleh dahak yang ada di kerongkongan.
  • Infeksi. Infeksi yang menyerang paru paru dan saluran nafas bagian atas dapat menyebabkan batuk. Batuk berdahak bisa jadi merupakan tanda penyakit pneumonia, bronchitis, sinusits atau TBC.
  • Penyakit paru menahun. Batuk berdahak bisa juga menandakan suatu penyakit paru menahun atau COPD.
  • GERD. GERD terjadi saat asam lambung naik ke tenggorokan dan menimbulkan batuk terutama saat tidur.
  • Pilek. Cairan yang berasal dari hidung turun ke kerongkongan dan menimbulkan batuk.
  • Merokok. Asap rokok yang masuk ke saluran nafas akan merangsang pengeluaran lendir dan menyebabkan batuk.

Vertigo, Bisa Jadi Gejala Awal Stroke

KOMPAS.com - Vertigo rupanya dapat menjadi tanda atau gejala dari suatu penyakit tertentu seperti  stroke dan tumor. Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan, sekitar 10 persen pasien stroke mengaku mengalami gejala awal pusing berputar (vertigo).

Demikian disampaikan spesialis saraf dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) M. Kurniawan  saat acara Seminar Vertigo "Re-Balance Your Life" di RS Asri, Jakarta, Rabu (26/10/2011).
"Vertigo penyebabnya macam-macam, salah satunya gangguan di sentral (otak kecil). Kalau gangguan di otak, paling banyak karena penyumbatan pembuluh darah di otak, yang disebabkan stroke," katanya.
Menurut Kurniawan, keluhan vertigo akibat gangguan pada bagian sentral (stroke dan tumor) kasusnya tidak banyak dan hanya 20 persen saja. Pasalnya, sebagian besar keluhan vertigo lebih dibanyak dipicu karena adanya gangguan pada perifer (vertigo posisi).

"Vertigo itu gejala. Jadi kalau kita ingin menegakkan diagnosis kita harus lihat dua hal. Pertama gejala yang dirasakan pasien (keluhan). Kedua, tanda-tandanya lewat pemeriksaan fisik atau laboratorium," ucapnya.
Kurniawan memaparkan, ada 3 (tiga) cara skrining stroke yang paling mudah, yakni dengan melihat keluhan paling umum. Pertama pasien, kita minta untuk senyum. Kalau bibirnya mencong, kita curiga dia stroke. Kedua, dengan mengangkat tangan. Kalau tangan yang sebelah lebih tinggi dari yang satunya berarti dia stroke separuh badan. Ketiga, dengan melihat gangguan bicara. Jika di ajak bicara tidak nyambung, atau diajak ngomong nyambung tapi bicaranya cadel (padahal sebelumnya tidak cadel).

"Di luar 3 gejala itu, bisa jadi gejala awalnya justru vertigo. Meski sebagian besar gangguannya lumpuh sebelah badan, mulut mencong dan bicara cadel, Tetapi bisa saja stroke datang dengan gejala vertigo, " jelasnya.

Menurut Kurniawan, risiko seseorang mengalami gejala vertigo biasanya akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Bahkan, sejumlah penelitian menunjukkan, angka kejadian vertigo diatas usia 40 tahun mencapai 40 persen. Sementara pada anak-anak dan remaja, vertigo lebih disebabkan karena traumatik (benturan) baik itu ringan atau berat.

Penderita Osteoporosis Rentan Terkena Vertigo

Go4HealthyLife.com, Jakarta - Pasien osteoporosis besar kemungkinan mengalami vertigo, menurut sebuah studi.

Penelitian yang diterbitkan di Neurology, jurnal medis dari American Academy of Neurology, melibatkan 209 orang dengan vertigo posisional jinak dengan tidak diketahui penyebabnya seperti trauma kepala atau operasi telinga.

Vertigo adalah gangguan telinga bagian dalam yang merupakan penyebab umum pusing. Kelainan ini diyakini disebabkan oleh kristal kalsium karbonat longgar yang bergerak di saluran penginderaan telinga bagian dalam.

Orang-orang dengan vertigo dibandingkan dengan 202 orang yang tidak memiliki riwayat pusing. Orang dengan osteoporosis, atau kepadatan tulang yang rendah, tiga kali lebih mungkin untuk memiliki vertigo, dan orang dengan osteopenia, yang merupakan tahap sebelum osteoporosis, dua kali lebih mungkin untuk mengalami vertigo dibandingkan orang yang memiliki kepadatan tulang yang normal.

Pada wanita, 25 persen dari mereka dengan vertigo menderita osteoporosis, dibandingkan dengan sembilan persen dari mereka yang tidak memiliki vertigo, dan 47 persen dari mereka dengan vertigo telah osteopenia, dibandingkan dengan 33 persen dari mereka yang tidak vertigo, demikian menurut Times of India.

Vertigo bukanlah suatu penyakit melainkan gejala dari berbagai gangguan saraf, penyakit dalam atau THT (telinga hidung tenggorokan). Vertigo terkadang juga bisa menjadi salah satu tanda awal serangan stroke.

Vertigo atau kehilangan keseimbangan akan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari walaupun tidak menimbulkan rasa sakit pada organ tubuh lainnya. Ketika kambuh, penderita vertigo akan mengalami kesulitan berdiri dan bergerak karena merasa sakit kepala luar biasa hingga dunia tampak berputar, bahkan kerap kali disertai dengan rasa mual dan muntah.

80 persen vertigo disebabkan karena gangguan pada peripheral yaitu pada bagian telinga dalam (THT) dan 20 persen gangguan pada sentral yaitu bagian otak dan sistem saraf.

Vertigo bisa disebabkan karena adanya gangguan saraf, penyakit dalam dan THT (telinga, hidung, tenggorokan). Beberapa faktor yang menyebabkan vertigo antara lain karena serangan migrain, radang pada leher, mabuk kendaraan, infeksi bakteri pada alat pendengaran dan kekurangan asupan oksigen ke otak.

Kelainan pada telinga juga sering menjadi penyebab, termasuk pula kelainan penglihatan atau perubahan tekanan darah yang terjadi secara tiba-tiba, gangguan di dalam saraf yang menghubungkan telinga dengan otak maupun di dalam otaknya sendiri. Vertigo bisa merupakan gejala di central, di otak kecil atau pembuluh darah di otak. Stroke juga bisa menyebabkan gejala stroke, bahkan 10 persen pasien stroke mengalami gejala awal pusing vertigo